Malam ini tak ada yang berbeda. Semilir angin masih menembus tulang-tulang kecil di dalam sini. Menggetarkan angin yang mungkin telah lama mengendap di tubuhku ditambah dengan angin mungil dari kipas rentan yang tak kunjung henti berputar. Di atas karpet pipih inilah mulainya timbul percakapan. Antara aku dan si kecil yang sok tahu. Ya! dia adikku. mula-mula hanya gelak tawa penuh canda dan keriangan yang tercipta namun hal itu berubah ketika ia mulai lagi dengan ke-sok-tahuannya itu.
Q: "Mengapa banyak bulatan di wajahmu?"
R: "Karena sudah tiba saatnya."
Q: "Ah tapi aku tak ingin miliki yang ini.Terlalu terlihat menonjol."
R: "Hei! kau pikir siapa yang mau menyimpan benda-benda mungil ini?!"
Tak berhenti sampai disitu, dia masih saja berbicara dengan suara khas ledeknya itu. Lalu harus apa? meladeni jiwa periang dan keingintahuannya yang berlebih itu ditambah dengan vonis-vonis nakal berasaskan sebab-akibat. Aku tak sehebat dirimu dalam meluncurkan premis-premis jenaka penuh dendam, Adik kecil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar